Senin, 20 Juli 2009

Samanera Abhasaro : Perubahan

Kebaktian Remaja, 18 Juli 2009
Protokol : Widya
Dhammadesana : Samanera Abhasaro
Penulis : Tommy ( Facebook )

Hari ini adalah hari yang sungguh sangat istimewa, Kami dengan bangga dan berbahagia kedatangan Samanera Abhasaro, Samanera yang nama sebelumnya adalah Mirad Nurdin, sekarang menjadi Samanera Tetap di Vihara Mendut Jawa Tengah.
Samanera sebelumnya adalah salah satu umat Buddha yang berasal dari Vihara Surya Adhi Guna, kepemimpinan, prestasi, kesabaran, ide dan banyak sumbangsih Mirad Nurdin, sangat berperan besar untuk Persaudaran Muda-mudi Vihara Surya Adhi Guna. Hingga sekarang menjadi Samanera, beliau tidak lupa untuk menengok kami untuk sharing Dhamma di saat liburan semesternya di Lembaga Pendidikan Sangha di Vihara Mendut.

Pada pagi hari, tepat pukul 08.00 WIB, umat Vihara Surya Adhi Guna, diberikan kesempatan oleh Samanera untuk memberikan dana makanan, kegiatan ini disambut baik oleh umat Vihara Surya Adhi Guna dengan berdana makanan.

Pada Awal Dhammadesananya, Samanera memulainya dengan Video Liputan Bhante Adiratano tentang kehidupan sehari-harinya sebagai Bhikkhu. Video ini tidak jauh berbeda dengan rutinitas dan kegiatan sehari-hari Samanera di Vihara Mendut.

Kegiatan sehari-hari Samanera saat ini adalah belajar di Lembaga Pendidikan Sangha Vihara Mendut, Senin sampai Jumat digunakan untuk belajar berbagai macam mata kuliah. Bahasa, Sutta, Meditasi dan lain lain sebagai nya. Pada hari sabtu & minggu, kadang keluar ceramah ke daerah Temanggung , Muntilan dan sekitarnya.
>

Disiplin dan bersikap anggun Sangha, terus dilaksanakan oleh Samanera dalam kegiatan sehari-harinya sekarang di Vihara Mendut.

Video Pembukaan Kegiatan Bhante Adhiratano tersebut membuka tema Dhammadesana mengenai perubahan. Lagi-lagi Video ditayangkan untuk memudahkan Para umat yang hadir untuk mengerti perubahan apa yang dimaksud, video tersebut menyangkan tentang seorang wanita yang melahirkan seorang anak yang terbang, lalu pada saat terbang tersebut menjadi remaja ,dewasa, tua dan akhirnya jatuh di kuburan. Seperti itulah hidup.
Lahir – Tua – Sakit dan Mati. Kahidupan ini tidak pasti, yang pasti adalah perubahan itu sendiri.
Yang terpenting adalah proses dalam menjalani kehidupan ini. Ada banyak jalan, sebagai perumah tangga, atau sebagai Bhikkhu atau samanera. Tapi Guru Buddha menyarankan untuk melakukan 3 hal :
1. Berbuat kebaikan dengan berdana.
2. Berbakti pada orang tua
3. Fokus melatih diri dengan menjadi Bhikkhu, Samanera atau Athasilani.

Lalu pertanyaan Samanera bertanya pada para umat yang hadir : “ Anda mau mempraktekan semua nya? ”… Kebanyakan umat menjawab, “dua sudah cukup samanera!”.. Bhante menjawab : “ Menjadi umat perumah tangga sebenarnya lebih sulit ketimbang menjadi Bhikkhu atau samanera, Banyak masalah yang akan timbul dalam kehidupan perumah tangga.Tapi kenapa anda semua, yang masih muda, lebih memilih untuk mencoba hidup berumah tangga?.. ”

Memang betul, menjadi umat pun bisa mencapai kesucian, tapi sungguh sulit.
Banyak urusan ini, urusan itu. Kalau menjadi Bhikkhu atau samanera, waktu nya lebih banyak dan lebih focus.

Hidup kita terus berubah,

Dulu menggunakan minyak wangi, sekarang minyak angin.
Dulu mengorbankan kesehatan demi kekayaan, sekarang mengorbankan kekayaan demi kesehatan.
Dulu mengintip melalui lubang kunci, sekarang melihat melalui kacamata.
Dulu menuntun orang, sekarang dituntun orang.

Pesan Samanera :
Untuk anak-anak yang masih muda, belajarlah, kejar impiannya. Sebagai contoh seorang dokter, yang praktek memerikasa pasiennya, hanya bekerja sebentar sudah mendapat banyak uang. Kelihatannya enak, tapi harusnya kita melihat dari sisi perjuangannya saat masih kuliah, sekolah menuntut ilmu. Motivasi tersebut yang harus di teladani dan dipraktekan.
Semoga Bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Search