Rabu, 22 Juli 2009

Nyanagupta Shi Xue Zhi : Aplikasikanlah Buddha Dhamma dalam kehidupan sehari-hari

Perayaan Hari Raya Asadha 2553 B. E. / 19 Juli 2009
Vihara Surya Adhi Guna, Rengasdengklok

Protokol : Romo Pannajayo
Dihadiri Anggota Sangha :
Y. M. Bhante Dhammacando
Y. M. Bhante Nyanagupta
Dhammadesana : Y. M. Bhante Nyanagupta (facebook)
Penulis : Grace Chandra
(facebook)

Hari raya Asadha merupakan hari pemutaran roda Dhamma untuk pertama kalinya kepada lima orang pertapa di Taman Rusa Isipatana. Sebenarnya hari Asadha merupakan hari raya yang penting tapi terkadang Hari Asadha terkesan biasa-biasa saja dan malah terkadang dilupakan. Hari Asadha sebenarnya hari ulang tahun Buddha Sasana. Dengan adanya peristiwa pemutaran roda Dhamma maka kita saat ini mengenal Dhamma.
Dhamma membuat kita tidak mempunyai cara pandang yang salah dalam mengarungi kehidupan sehari-hari. Cara pandang yang salah contohnya adalah pemboman J. W. Marriot. Pelaku yang melakukan pemboman tersebut mempunyai pandangan yang salah sehingga melakukan tindakan pengeboman yang memakan korban nyawa.
Saat pertama kali kita mendengar berita pengeboman ini mungkin kita merasa kesal kepada pelaku pengeboman dan merasa kasihan dengan para korban. Sebenarnya kita seharusnya jangan merasa kesal kepada sang pelaku melainkan merasa kasihan juga kepada para pelaku. Mengapa??. Kita kasihan karena sungguh malang diri mereka sudah terlahir di lingkungan yang salah sehingga membuat mereka mempunyai pandangan salah. Kasihan kepada mereka karena tidak dapat mengerti Dhamma sehingga mampu melakukan tindakan yang menyakitkan. Seharusnya kita mengasihi dan mencintai mereka yang telah berbuat kesalahan kepada kita??. Mampukah kita melakukan cinta kasih tanpa batas??. Apakah kita mampu mengembangkan cinta kasih kepada orang yang melakukan kejahatan pembunuhan??

Lalu Y. M. Bhante bercerita bahwa Beliau pernah membaca sebuah cerita mengenai perang Vietnam dari Y. M Thich Nhat Hanh. Dahulu pada perang Vietnam terdapat seorang gadis berumur 20 tahun yang diperkosa oleh bajak laut. Sang gadis belia yang masih polos dan tidak mengerti apa-apa lalu bunuh diri dengan terjun ke laut. Ketika mendengar cerita ini Y. M. Thich Nhat Hanh awalnya merasa jengkel tetapi setelah mengembangkan cinta kasih tanpa batas akhirnya beliau malah berbalik kasihan kepada para bajak laut.
Y. M. Thich Nhat Hanh akhirnya berpikir para bajak laut sungguh kejam dan tidak bermoral karena pada saat itu mereka tumbuh dalam lingkungan yang tidak kondusif. Mereka tidak mengenal dhamma sehingga mereka tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Sunggguh kasihan mereka yang tidak mengerti akan Dhamma.
Pada dewasa ini orang hanya mengerti Dhamma sampai intelektual saja. Mereka mengenal Dhamma hanya sebagai religi dan tidak mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Seharusnya dhamma dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga bisa mengubah diri kita menjadi seseorang yang lebih baik.
Dalam mengarungi kehidupan kita mempunyai suatu kebiasaan. Biasanya energi kebiasaan kita yang kita miliki sangat kuat dan kita terbiasa akan sifat-sifat jelek kita. Tidak gampang untuk mengikis energi kebiasaan jelek yang kita miliki. Proses mengikis energi kebiasaan yang jelek tidaklah segampang seperti kita membalikkan tangan. Perlu proses yang kontinu dan kesabaran sehingga kita dapat mengikis energi-energi kebiasaan yang tidak baik.
Para praktisi yang berlatih mempraktekkan Dhamma diibaratkan seperti bunga mangga atau telur ikan. Seperti yang kita ketahui bahwa pohon mangga ketika berbunga banyak sekali bunganya tetapi tidak semua bunga mangga yang berhasil menjadi buah mangga. Hanya sebagian kecil dari bunga mangga yang berhasil menjadi buah mangga. Begitu juga dengan ikan ketika bertelur sungguh banyak bisa mencapai ribuan telur ikan. Tetapi dari ribuan telur ikan yang menjadi ikan hanya sebagian kecil. Seperti itulah para praktisi dhamma, memang banyak praktisi dhamma tetapi yang mencapai keberhasilan (tingkat kesucian) sangatlah sedikit.
Lalu bagaimana caranya agar kita para praktisi dapat berhasil dalam berlatih??. Sang Buddha sudah memikirkan hal ini yaitu dengan membuat suatu komunitas Sangha. Guru Buddha mengetahui bahwa berlatih bersama dengan suatu komunitas lebih mudah dibandingkan berlatih sendiri-sendiri. Sebagai contoh bila tidak berada dalam komunitas yang mendukung terkadang kita lebih mudah terserang oleh rasa malas. Kita mungkin malas bangun jam 4 pagi untuk langsung melakukan meditasi tetapi ketika kita melakukannya dalam suatu komunitas maka kita mampu melakukannya.
Suatu komunitas bukanlah hanya komunitas Sangha Monastik juga. Kita haruslah membangun suatu komunitas pesamuan umat awam. Pesamuan umat awam ini berguna untuk mengontrol dan tempat untuk berjuang bersama-sama. Bagi yang menyukai meditasi buatlah komunitas meditasi bersama-sama, begitu juga bagi yang menyukai paritta buatlah komunitas membaca paritta, dan seterusnya. Dengan adanya komunitas ini maka Dhamma akan semakin sering dipraktekkan.
Dalam mengarungi kehidupan pastilah mengalami permasalahan. Jika kita mengalami permasalahan yang tidak menyenangkan janganlah kita tidak menyukai dan membencinya. Sebenarnya dibalik sesuatu yang tidak menyenangkan tersebut ada pelajaran yang dapat kita ambil. Sebagai contoh Buddha tidak pernah membenci Mara walaupun Mara selalu mengusik dan mengganggu-Nya. Perlu kita tilik bahwa dengan mengetahui dan waspada adanya Mara suatu sifat yang tidak baik maka Buddha pun berusaha untuk selalu tidak terpengaruh oleh Mara. Dengan usaha Guru Buddha maka Guru Buddha mencapai Nibbana.
Lalu Y. M. Bhante memberikan empat tips yang dapat kita lakukan jika kita dihadapi suatu masalah, yaitu:
1. Kita harus belajar menghadapi permasalahan itu. Terkadang jika ada masalah kita sering kali menutup mata dan tidak mau tahu. Atau walaupun menerima, kita menerima permasalahan dengan rasa jengkel. Kedua sikap seperti ini jangan kita lakukan. Kita harus mampu menerima permasalahan dengan perasaan tulus.
2. Belajar untuk menerima permasalahan itu
3. Menyelesaikan permasalahan
4. Melepaskan permasalahan

Semoga dengan cara ini maka semoga gesekan-gesekan dengan orang lain dapat berkurang. Aplikasikanlah Buddha Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari diri kita lalu keluarga lalu komunitas kia sehingga mereka merasakan indahnya Dhamma. Semoga kita dapat merealisasikan Tanah Suci Kita.

Demikianlah ringkasan Dhammadesana pada perayaan Asadha 2553 B. E. di Vihara Surya Adhi Guna, Rengasdengklok. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Search