Senin, 25 Mei 2009

Sdri. Rita : Manfaat Cinta Kasih tanpa batas

Kebhaktian Umum, 17 Mei 2009
Protokol : Romo Pannajayo
Penyalaan Lilin Altar : Bpk. Embeng Sutiono
Pembacaan Dhammapada : Upasika Sumiati (Ibu Soan Karuna Susanto)
Dhammadessana : Sdri. Rita dari Karawang
Namo Buddhaya

Pada awal dhammadessananya Saudari Rita menceritakan dua kisah nyata tentang manfaatnya fangshen. Kisah pertama mengenai sebuah keluarga yang ibunya menderita kencing manis dan memiliki luka kaki yang sangat parah sehingga kakinya pun diamputasi. Luka bekas amputasi sang ibu tersebut selalu basah dan selalu dikerubungi oleh semut. Suatu hari anak sang Ibu berhasil membujuk ibunya untuk mau melakukan fangshen. Setelah beberapa kali melakukan kegiatan fangshen dengan itikad sendiri akhirnya
lambat laun luka sang ibu pun kering dan tidak dikerubungi atau digigit semut lagi. Sedangkan kisah kedua mengenai seseorang yang divonis terkena leukemia dapat sembuh setelah melakukan fangshen secara rutin. Padahal seperti yang kita ketahui penyakit leukemia sangat sulit disembuhkan. Dapat kita lihat bahwa kekuatan cinta kasih yang kita pancarkan saat melakukan fangshen dapat membuat diri kita menjadi lebih sehat dalam spiritual dan jasmani.
Di dalam dhammapada syair 221 diterangkan seharusnya kita membuang kemarahan karena kemarahan bersifat merusak. Dalam dhammapada attakatha syair 221 diterangkan bahwa pada saat Anuruddha Thera mengunjungi keluarganya ada salah satu familinya yang tidak menemuinya karena familinya tersebut menderita sakit kusta. Anuruddha Thera mengatakan agar familinya tersebut melakukan kebajikan. Setelah melakukan kebajikan, saudara Anuruddha thera tersebut berangsur pulih dari penyakit kusta yang dideritanya. Mengapa saudara Anuruddha thera dapat menderita kusta??. Ternyata pada kehidupannya yang lalu saudara Anuruddha thera adalah seorang permaisuri raja yang membenci seorang penari. Permaisuri raja ini dahulu pernah menaruh bubuk gatal kepada seorang penari sehingga penari tersebut mati karena menderita kesakitan. Akibat perbuatan yang penuh dengan kemarahan maka sang permaisuri pun terlahir kembali sebagai seseorang yang menderita kusta.
Kemarahan perlu dihindari sedangkan sifat cinta kasih perlu kita kembangkan. Kita dapat melatih mengembangkan cinta kasih dengan praktik metta bhavana. Pada awal meditasi metta bhavana kita pancarkan cinta kasih pada diri kita sendiri dahulu. Lalu setelah membahagiakan diri sendiri maka kita dapat membahagiakan orang lain. Cinta kasih kemudian kita pancarkan cinta kasih kepada orang tua kita yang masih hidup, kemudian kepada guru kita dan yang terakhir kepada semua makhluk. Orang tua kita yang meninggal kita masukkan dalam kategori terakhir yaitu semua makhluk.
Diceritakan pada masa Sang Buddha, hiduplah seorang Thera yang bernama Visakha. Thera ini selalu mengembangkan metta. Suatu hari, dia bertekad untuk mempraktekkan meditasi metta selama beliau duduk, berdiri, berjalan dan berbaring. Ketika Visakha Thera mempraktekkan meditasi metta dengan cara ini, kekuatan metta memancar ke seluruh gunung. Semua makhluk yang hidup disana menjadi damai dan tenang Tidak ada perkelahian dan pertengkaran, setiap orang hidup dalam harmoni. Dengan cara ini, dia melewatkan empat bulan masa ret-retnya. Ketika masa empat bulan berlalu, Visakha Thera memutuskan untuk pindah ke tempat yang lain. Disaat tersebut, terdengarlah suara isak tangis dewa pohon yang sedih karena Visakha Thera akan pergi. Akhirnya setelah dewa pohon memohon maka Bhante Visakha pun tidak jadi meninggalkan tempat tersebut. Dari cerita ini dapat dilihat bagaimana seorang meditator metta begitu dicintai oleh para dewa.
Selain dengan meditasi metta bhavana dan fangshen, cinta kasih pun dapat dikembangkan dengan biasa melafalkan kata-kata yang penuh cinta kasih. Pada kesempatan ini saudari Rita juga mengenalkan “Chat Metta” kepada umat Vihara Surya adhi Guna. Pada malam tersebut kami bersama-sama mendengarkan CD “Chant Metta” dan bersama-sama berlatih mengucapkannya.
Pada akhir dhammadessana, saudari Rita menegaskan bahwa kita sebagai perumah tangga haruslah berjuang dengan giat di dalam dhamma. Beliau berkata bahwa kita harus selalu mempraktekkan kesadaran dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan selalu sadar dalam setiap segala hal yang kita lakukan maka dapat memungkinkan kita mencapai tingkat kesucian pada kehidupan kita sekarang ini. Saudari Rita berkata terdapat kisah nyata seorang wanita perumah tangga yang selalu mempraktekkan kesadaran dalam segala hal yang dia lakukan. Dengan perbuatan yang dilatihnya ini menuntun ia mencapai tingkat kesucian dan menuntunnya untuk meninggalkan kehidupan umat awam. Oleh sebab itu, selalulah sadar dalam segala tindakan yang kita lakukan sehingga kita dapat menjadi manusia yang lebih baik.
Demikianlah ringkasan dhammadessana pada tanggal 17 mei 2009, semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Search